Konvoi 2.000 ton beras dari Cepu sampai Bojonegoro
Sebelumnya, tepatnya Selasa (19/9), 2.000 ton beras itu dilepas secara simbolis oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin dari Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. “Mewakili Indonesia kita kirimkan 2.000 ton beras memberi perhatian besar untuk Rohingya yang sedang mengalami penderitaan besar,” ungkap Ahyudin selagi melepas konvoi kontainer menuju Tanjung Perak, Surabaya.
Ahyudin menjelaskan, meskipun beras-beras 2.000 ton ini dikirimkan dari Cepu, Kabupaten Blora, tapi sesungguhnya ada keterlibatan puluhan ribu masyarakat Indonesia di dalamnya. Bantuan tersebut berasal dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. ACT membawa amanah besar itu dalam bentuk bantuan beras, bantuan pangan yang paling dibutuhkan.

Presiden Aksi Cepat Tanggap Ahyudin
Dok. ACT
Hari ini di Bangladesh dekat dengan perbatasan Myanmar, pengungsi Rohingya masih terus berdatangan setiap hari. Rahadiansyah anggota Tim Kemanusiaan ACT untuk Rohingya yang tiba di Bangladesh sejak Jumat (1/9) mengungkapkan, kondisi mereka begitu memprihatinkan. Banyak dari mereka yang terlihat ketakutan dan lunglai, tak terkecuali anak-anak.
Saat ini, Rahadiansyah mengungkapkan setidaknya ada empat kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan, yakni berupa pangan, nutrisi dan suplemen, shelter, dan pakaian layak pakai.
“Di atas itu semua, panganan siap saji paling dibutuhkan saat ini,” tambah Anca.

Dok. ACT
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga memberikan apresiasi pada seluruh masyarakat Indonesia. Khofifah menitipkan amanahnya, bahwa seluruh bantuan dari Bangsa Indonesia bisa tiba secepatnya dan benar-benar diterima oleh masyarakat Rohingya.
“Hati kita sudah terpanggil, pikiran kita terpanggil, dan langkah kita juga terpanggil, menjadi bagian yang menyelesaikan masalah. Sangat patut kita apresiasi, kita hargai dan kita berikan dukungan penuh. Semoga krisis kemanusiaan di Rohingya segera teratasi,” kata Khofifah dalam pertemuannya dengan Presiden ACT Ahyudin, pekan kedua September kemarin.
Selain itu, Khofifah juga mengingatkan tentang ikhtiar panjang yang masih harus dilakukan Bangsa Indonesia untuk membantu Rohingya. Yakni menolak semua cara kekerasan, melindungi setiap jiwa warga Rohingya, dan menjaga keselamatan seluruh hak hidup masyarakat.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Presiden Aksi Cepat Tanggap Ahyudin.
Dok. ACT
“Bangsa Indonesia bisa bergerak untuk mengajak pemerintah Myanmar membuka isolasi, supaya bantuan kemanusiaan ini bisa dimaksimalkan untuk memberikan layanan yang lebih masif lagi untuk masyarakat Rohingya,” paparnya.




