Ellen Weinreb, Managing Director Weinreb Group Sustainability Recruiting
Menjadi seorang CSO tidaklah mudah. Inilah 3 kemampuan yang dibutuhkan oleh mereka.
Jakarta, MajalahCSR.id – Pimpinan Divisi Keberlanjutan dalam perusahaan merupakan talenta unik dalam menghadapi segala permasalahan di meja mereka, mulai dari kelompok politis yang punya kebijakan anti ESG hingga pemanasan global yang mengancam masa depan kita.
Menurut praktisi sustainability, Ellen Weinreb, seperti yang dilansir dari Greenbiz, hal itulah yang dirinya simpulkan usai lebih dari satu dekade mempelajari soal CSO dalam perusahaan perdagangan publik di Amerika Serikat dan berdialog dengan para pemimpin senior keberlanjutan dari seluruh dunia.
Ellen mengungkapkan, perusahaannya, Weinreb Group, dalam beberapa tahun, melakukan survei mendalam untuk memahami, siapa sebenarnya yang pantas memegang jabatan ini, apa yang mereka lakukan, pengaruh seperti apa yang mereka hasilkan, dan isu apa yang menjadi prioritasnya.
Ellen juga mencoba mencermati “habitat” dari para CSO ini, seperti di mana dan dengan siapa mereka bekerja, dan bagaimana mereka menunjukkan kemampuan dan instingnya untuk mengubah ekosistem perusahaan dalam mengurangi dampak bisnis sekaligus menciptakan nilai sosial dan lingkungan.
Diungkapkan pula, saat CSO menghadapi berbagai tantangan, Ellen meyakini kemampuan mereka. Mereka sudah mengasah kompetensinya sehingga mejadi pemimpin yang sigap, strategis, dan kolaboratif.
Jadi, kompetensi penting apa yang harus dimiliki seorang CSO untuk berhasil?
Pada laporan CSO 2023 yang disusun perusahaannya, Ellen mengungkapkan, pihaknya meminta para CSO untuk menjelaskan kompetensi apa yang bisa membantu mereka dalam pekerjaannya. Sejumlah CSO pun membagikan tipsnya terkait 3 hal penting yang harus mereka miliki, yaitu:
-Memiliki strategi dan visi
Dari 12 list kompetensi yang terdapat dalam pertanyaan survei, 86% CSO yang menjawab “strategi dan visi” adalah hal terpenting yang harus mereka punyai. Strategi sustainability menjadi bagian penting dari strategi perusahaan – yang dikendalikan oleh keinginan investor dan regulasi ESG – seorang CSO harus mampu menyampaikan strategi ESG yang mampu menopangtujuan bisnis mereka.
“Sangat penting untuk memahami apa yang utama bagi perusahaan dan di mana peluangnya,” kata Jill Kolling, CSO James Hardie Building Products. Untuk menemukan cara visi keberlanjutan bagi para eksekutifnya, Jill selalu mengemukakan pertanyaan: “Apa hal ini bisa dilakukan untuk perusahaan? Apa ini bisa dilakukan bersama merek perusahaan? Apa yang bisa dilakukan terkait hal ini pada perusahaan secara komersil? Apa hal ini bisa menarik dan mempertahankan orang-orang yang berbakat (pada perusahaan)?
Sementara itu Nancy Mahon, CSO kosmetik global, Estee Lauder, membandingkan antara memiliki strategi keberlanjutan dengan mempunyai misi kehidupan pribadi. “Bagaimana kita bisa mencapai itu, dan tindakan apa saja yang kita pilih demi mencapai itu,” cetusnya. “Strategi adalah jalan perusahaan dalam membuat pilihan, dan ini sangat penting bagi CSO guna memahami dan berempati terhadap dasar bisnis, dan mengerti bagaimana sustainability mampu memperlihatkan kemampuan bisnis dalam menyampaikan nilai.”
Strategi dan visi adalah dua sisi mata uang yang penting. Untuk itu, Dave Stangis, CSO Appolo Global Management, menegaskan, kurangnya kompetensi ini adalah gap terbesar seorang pemimpin untuk mengemban profesinya. “Jika kita tak mampu mengomunikasikan apa yang tengah kita gerakan, perubahan yang tengah kita lakukan, (hasilnya) akan sangat tidak efektif,” bebernya.
-Pengaruh tanpa otoritas
Kemampuan untuk mempengaruhi tanpa otoritas merupakan kompetensi penting kedua yang berhasil diidentifikasi menurut responden CSO, yaitu 68% di antaranya. Hal ini penting karena CSO tidak selalu berada dalam pimpinan di tim perusahaan. Saat tim perusahaan bertambah banyak, biasanya jumlah di divisi ini tidak berubah.
Jamie Jones Ezefili, CSO Northern Trust, menegaskan,”Saya kini hanya punya satu tim, namun pekerjaan saya meluas ke seluruh bagian organisasi perusahaan. Alhasil, saya setidaknya bertanggung jawab mendapatkan sekurang-kurangnya 35 tim tambahan di seluruh organisasi perusahaan yang berjalan.”
Jamie mengaitkan bisnis dengan koleganya dengan menekankan pada dampak hulu dan hilir dari permasalahan keberlanjutan, mulai dari regulasi, klienm dan keinginan investor.
Pada isu ini, Nancy Mahon pun mengomentari bahwa ia memengaruhi koleganya melalui passion dasar mereka untuk dunia yang lebih baik dan menghijau.
-Menjadi bunglon korporasi
Salah satu cara terbaik CSO untuk memengaruhi di luar otoritas adalah mengasah kemampuan mereka untuk menerjemahkan isu keberlanjutan ke dalam bahasa yang mampu sampai kepada beragam latar belakang orang. Pada survei tersebut, Ellen, menyebutkan, 67% CSO mengatakan padanya bahwa kemampuan untuk menjadi bunglon korporasi juga sangat penting.
“Kapan pun anda menggerakkan inisiatif atau berkeinginan sukses dalam apa pun yang dilakukan, orang-orang harus tergerak, harus memahami, dan menjadikan orang-orang mampu mengadaptasinya ke dalam keseharian aktivitas mereka,” kata Susan Uthayakumar, CSO Prologis.
Opini lainnya datang dari Sophie Beckham, CSO International Paper. Ia mengatakan, sangat penting untuk menyadarkan orang dalam cara berpikir atau aktivitas pekerjaan mereka. “Ada perubahan kultur yang terjadi saat mendorong orang untuk terlibat, jadi kita berjalan menuju arah yang sama, dan seluruhnya demi dampak keberlanjutan yang diharapkan,” jelas Beckham.