Metode Gasing.
Prof Yohanes Surya membeberkan metode Gasing yang gampang sekali. Intinya pihaknya mengajarkan berhitung, namun yang paling penting mengajarkan penjumlahan dulu.
Ketika penjumlahan sudah dikuasai barulah anak bisa diajari perkalian. Baru setelah itu diajari pengurangan kemudian pembagian. Jika dikalkulasikan, belajar berhitung intensif selama 2 bulan saja bisa selesai. Kalau setelahnya dilanjutkan pelajaran matematika kelas 6 SD cukup tambah 3 bulan selesai.
Prof Yohanes juga menyayangkan mengenai metode pendidikan yang ada, banyak guru yang dilepas saja untuk mengajari suatu mata pelajaran tanpa diberikan caranya. Padahal belum tentu guru itu menguasai.
Untuk membuktikan, dirinya pun bereksperimen kepada anak pertama dan anak terakhirnya. Anak pertama diajarkan matematika metode gasing, sedangkan anak terakhir tidak diajarkan dan masuk sekolah yang dibawah standar. Ketika anak sulungnya mengetahui bahwa adiknya masih menggunakan metode biasa yaitu menulis dulu di kertas saat berlatih berhitung, ia meminta sang ayah untuk segera mengajari metode gasing, seperti yang diajarkan kepadanya agar adiknya tidak kesulitan untuk melalui UAN.
Prof Yohanes pun mengajari anak terakhirnya dengan metode gasing, tentunya dengan waktu yang singkat. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada anak yang bodoh, tetapi metode pengajarannya yang salah.
Ketua Pengurus YPA MDR Arietta Adrianti menjelaskan program metode gasing ini merupakan program pelatihan matematika. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu guru-guru dan muridnya disekolah binaan Yayasan Pendidikan Astra agar bisa bersaing dan berinovasi di tingkat kabupaten, provinsi bahkan di tingkat nasional.
“Awalnya kami ragu dengan diri kami sendiri, apakah kami akan bisa menguasai matematika hanya dengan waktu 2 bulan saja. Namun hasil yang kami dapatkan dari metode gasing ini membuat tidak ada kata susah dalam matematika,” ujar Rohmawati, guru perwakilan peserta gasing dari SDN Tengklik, Kec. Gedangsari, kab. Gunungkidul.
Peserta gasing batch 1 ini terdiri dari 18 guru SD binaan YPA-MDR di Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan dan Kab. Kupang. Nantinya setelah kembali ke daerah asalnya, mereka akan menjadi agen perubahan dan mengimplementasikan ilmu yang sudah diperoleh selama 2 bulan untuk meningkatkan kualitas rekan seprofesinya dengan dibantu oleh siswanya.
“Diharapkan program gasing ini dapat menciptakan Sekolah Unggul sekaligus membentuk generasi unggul di masing-masing sekolah di daerah,” papar Arietta.




