Virus corona tak pilih-pilih dalam menginfeksi manusia. Mulai dari pejabat, politikus, pesohor, pengusaha, paramedis, bahkan atlit yang punya fisik kuat, bisa terpapar. Keganasan virus ini bahkan mengakibatkan lebih dari 1,4 juta orang berstatus pasien di lebih dari 200 negara. Sementara kekejaman virus ini sudah membunuh 82.195 orang penduduk dunia.
Indonesia termasuk salah satu kawasan terdampak. Hingga kini ada 2.956 pasien dalam pengawasan, dan 240 orang diantaranya meninggal dunia. Korbannya beragam, mulai dari dokter, pejabat, artis, dan warga kebanyakan. Setiap orang punya potensi terkena, laki-laki, perempuan, orang tua, dewasa, dan anak muda. Bahkan dikabarkan, beberapa binatang peliharaan mulai kucing, anjing, sudah terancam virus ini.
Selama ini pemerintah dan banyak pihak menaruh perhatian pada tenaga medis (dokter dan perawat) yang merupakan benteng terakhir penanganan virus corona. Mereka sangat rentan, mengingat resiko profesinya yang mengharuskan kontak langsung dengan pasien.
Namun, kita terkadang lupa, ada profesi lain yang selama ini sama penting namun lepas dari perhatian. Mereka adalah petugas kebersihan, pengumpul sampah, termasuk diantaranya para pemulung. Aktivitas sehari-hari yang berkawan sampah adalah resiko bahaya yang tak dapat dihindari. Terlebih, di saat pandemi COVID-19 merebak, mereka termasuk kelompok yang paling terancam, baik terpapar atau menjadi vektor virus ke orang lain.
Petugas Sampah dan Pemulung Paling Rentan Corona
Berangkat dari hal ini, Greeneration dan Waste4Change berinisiatif untuk menggalang donasi untuk para petugas kebersihan dan pemulung. Dua lembaga pro lingkungan ini bekerja sama dengan “kotak amal elektronik”, kitabisa.com, mengajak siapapun yang peduli pada petugas kebersihan sekaligus penanganan virus corona untuk menyumbang sebagian rezekinya.
Dalam jumpa media melalui jaringan online zoom, Rabu (8/4/2020) M. Bijaksana Junerosano, atau biasa dipanggil Sano mengatakan, inisiatif ini berangkat dari rasa keprihatinan dan merasa ada yang perlu bergerak (untuk membantu petugas sampah dan pemulung).
“Inilah semangat gotong royong asli Indonesia,”ujar Sano dalam mengapresiasi inisiatif penggalangan donasi ini. Berdasarkan hasil diskusi dengan Kementerian Koordinator Perekonomian, seminggu sebelumnya, Sano menyebut, ada sekitar 300 ribu petugas sampah di Indonesia. Meskipun di tengah aturan pembatasan aktivitas karerna wabah corona, mereka tetap harus mengangkut sampah. Karena apabila berhenti, sampah yang menumpuk tentu menimbulkan masalah kesehatan baru.
Sementara, jumlah profesi pemulung sampah di Indonesia diperkirakan mencapai 600 ribu orang. Jika digabung dengan anggota keluarganya mencapai 1,8 juta hingga 2,4 juta orang.
“Yang membuat kami prihatin adalah pengetahuan, kewaspadaan, dan respon dari petugas persampahan dan pemulung terhadap isu pandemi corona yang begitu tinggi pemahamannya,” cetus Sano. Kondisi ini membuat mereka bekerja seperti biasa. Tanpa alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan. Padahal profesi mereka sangat rentan untuk jadi vektor penyebar corona, imbuh Sano.
Sehingga karena keterbatasan APD yang disediakan pemerintah, Greeneration dan Waste4Change tergerak untuk mengumpulkan donasi untuk nantinya dibelikan alat pengaman bagi petugas sampah dan pemulung.
Masker Kain Paling Cocok untuk Orang Sehat
Sementara itu, Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) dan Kehutanan, menyambut baik dan mengapreasisi atas inisiatif penggalangan donasi ini.
“Terkait hal ini, Pemerintah sudah mengeluarkan surat edaran dari KLHK tentang pengelolaan limbah infeksius limbah B3 dan sampah rumah tangga dari penanganan COVID-19,” ungkap Novrizal. Dari surat edaran tersebut, Novrizal menggarisbawahi soal sampah rumah tangga. Limbah rumah tangga kini ada sampah masker dari orang sehat atau bahkan orang tanpa gejala (OTG). Sehingga para petugas sampah perlu melengkapi dirinya dengan APD yang sesuai.
Surat edaran juga mengatur terkait pemakaian masker. Ada 3 jenis masker yang disebut, yaitu masker guna ulang (kain), masker bedah, dan masker N95 (untuk paramedis yang kontak langsung dengan pasien). Novrizal mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat sebaiknya menggunakan masker guna ulang atau kain. Dengan syarat selalu mencucinya. Penggunaan masker ini akan mengurangi limbah masker sekali pakai (disposable masker/masker bedah) yang bisa menimbulkan persoalan limbah baru.
Sementara untuk mereka yang sudah kepalang memakai masker sekali pakai, diimbau untuk menggunting lalu memasukannya ke dalam kemasan sebelum dibuang. Hal ini untuk meringankan kerja petugas sampah dan juga menghindari penyalahgunaan masker bekas.
Sejauh ini sudah ada 68 organisasi/institusi yang turut berkontribusi. Target pengumpulan dari donasi ini adalah Rp 2 miliar. Menurut Sano, angka 2 miliar itu merupakan target awal. Apabila responnya bagus, masa pengumpulan donasi bisa diperpanjang dari awalnya 2 pekan.
Bila perorang mendapatkan paket bantuan senilai Rp 100 ribu (masker, hand sanitizer, sarung tangan dan vitamin) maka target Rp 2 miliar bisa membantu sekitar 20.000 orang. Sano berharap banyak pihak lain juga turut berinisiatif untuk menggalang dana. Sebab, untuk mecukupi kebutuhan dari sekitar 1.000.000 petugas kebersihan dan pemulung membutuhkan dana yang sangat besar.
Untuk siapapun yang ingin berdonasi yuk kita membantu sesama melalui link: https://kitabisa.com/campaign/agarmerekaamancorona. Bantu mereka sekaligus juga membantu kita untuk secepatnya pulih dari wabah corona.




