banner
Sajian menu buffalo mozzarella pizza. Foto : 123rf.com
Liputan

Menu Jamuan yang Picu Kontroversi di COP26

519 views

MajalahCSR.id – Menu jamuan yang disajikan di pertemuan COP26 ternyata menyisakan kontroversi. Untuk ukuran konferensi perubahan iklim terbesar, siapapun pasti mengira menu yang disajikan juga ramah lingkungan. Di luar dugaan, sekira 60% bahan makanan untuk sajian para tamu undangan berasal dari daging dan susu. Meskipun penyelenggara tahu betapa besar jejak karbon dari produk hewani termasuk susu ini, mereka tetap menyajikannya di sana.

Mengutip Bigissue, selama konferensi, para delegasi disuguhkan menu yang bermacam, termasuk sandwich, cemilan pastri, pasta, pizza, dan salad. Semua jejak karbon dari menu tersebut dicantumkan secara daring oleh situs web A Recipe For Change. Terdapat pesan teks pada keterangannya, yang tertulis “Menurut WWF, kita perlu menurunkan (jejak karbon makanan) di bawah 0,5 kg CO2 ekuivalen (per menu) agar mencapai tujuan yang tercantum dalam perjanjian Paris.”

Melihat keterangan menu makanan, lebih dari setengah sajian itu mengandung daging dan susu. Klimato, startup asal Swedia, berkilah bahwa setiap menu yang disajikan dicantumkan jejak karbon, yang membantu para tamu memilih makanan dengan jejak karbon paling rendah.

Emisi dari produsen pangan hewani seperti peternakan disebut berkontribusi 14,5% dari total emisi global. Emisi karbon ini hanya dapat berkurang jika kita berhenti atau minimal mengurangi produk daging dan susu.  

Di antara suguhan menu dalam pertemuan itu, sajian berbahan nabati tentu saja paling kecil jejak karbonnya. Sebagai contoh, pasta vegan hanya memiliki 0,3 kg emisi karbon per sajian. Sementara menu lain menyisakan rating karbon yang tinggi. Bahkan ada menu semi vegan lain yang memiliki jejak emisi karbon tinggi. Sebut saja “buffalo mozzarella pizza” yang justru paling tinggi, di mana campak karbon per sajiannya mencapai 2,1 kg CO2 ekuivalen. Hal ini karena sajian menggunakan produk susu, yaitu keju mozzarella dari susu kerbau.

Joel Scott-Halkes, juru bicara pada organisasi Animal Rebellion, mengatakan, memasukkan menu beremisi tinggi pada perhelatan konferensi iklim terbesar ini mengindikasikan Inggris (sebagai tuan rumah) gagal memahami penyebab utama dari krisis iklim.

“Sebuah kecerobohan besar memasukkan menu daging, seafood, dan susu pada katering COP26 menunjukkan Pemerintah Inggris begitu gagal dalam memahami penyebab dasar krisis iklim,” kritik Halkes. “Ini seperti menyediakan rokok dalam konferensi kanker paru-paru. Selama kebijakan tidak logis terus dilakukan, kegawatan dari krisis iklim ini tak bakal terselesaikan.”   

banner