banner
Gedung Luma Arles di Perancis Selatan yang sebagiannya terbuat dari garam yang didesain oleh Frank Gehry. Foto: Adrian Deweerd/Courtesy Luma Arles
Ragam

Garam sebagai Material Bangunan yang Berkelanjutan

324 views

Jakarta, MajalahCSR.id – Memanfaatkan material alam untuk konstruksi seperti kayu dan bambu, sejatinya sudah dilakukan manusia berabad lamanya. Bahkan sekarang, para ahli tengah gencar mengembangkan material konstruksi lain yang juga berasal dari alam, seperti dari jamur mycelium. Di luar itu ada bahan lain yang akrab dengan keseharian kita dan belum begitu ditelaah ada natrium klorida (NaCl), alias garam meja.

Garam tentunya bisa mudah ditemukan di alam di dua lokasi: di dalam air laut, atau di dalam tanah berupa kristal garam atau halite. Untuk mengambil garamnya, dibutuhkan metode evaporasi baik secara manual alami atau mekanikal untuk memisahkan garam dari air.

Garam dan kegunaannya

Di masa lalu, garam adalah komoditas berharga karena garam permukaan disebut sulit dipisahkan, dan susah ditambang. Di jaman sekarang, garam mudah tersedia, dengan manfaat yang bermacam. Garam dikenal sangat berguna untuk menyimpan panas dan kelembaban, juga antibakteri dan anti api. Selain itu karena strukturnya yang padat, punya struktur kisi, sulit diitembus, dan tak terlalu berpori.

Melansir dari Inhabitat, aneka manfaat garam menjadikannya bisa digunakan dalam makanan, kimia dan industri kesehatan. Oleh karena meningkatnya upaya desalinasi air laut, dan tambang kalium karbonat untuk pupuk pertanian, jumlah garam jadi melimpah. Alhasil komoditas ini tak lagi sulit didapat seperti jaman dulu.

Sayangnya, garam dianggap kurang begitu pas di industri konstruksi. Sebabnya, memicu korosi dan karat komponen logam, sangat rentan pada erosi air dan angin, dan bisa merusak bata dan material lain karena “kemampuannya” yang mudah menyerap lembab. Dalam kondisi hangat atau musim kering, air dalam bata akan menguap dan mineral garam menjadi kristal. Kondisi ini menyebabkan tekanan pada bagian dalam memicu peregangan sehingga interior bata menjadi rusak.

Garam untuk konstruksi

Material garam dapat dibagi menjadi tiga kelompok, mentah, komposit, dan material garam yang diproses. Garam mentah merujuk pada bongkah garam dengan kandungan natrium klorida tinggi (lebih dari 95%).

Sementara itu, garam komposit adalah solusi manfaat garam melalui campuran bahan lain, di mana kandungan garamnya mencapai 95%. Salah satu contohnya adalah konsentrat bangunan Roma kuno, yang terdiri dari campuran abu vulkanik, garam laut dan kapur. Campuran bahan ini merupakan material sangat kuat bahkan jika pun terkena air laut, membuatnya sangat cocok untuk campuran bahan struktur di wilayah pantai.

Terakhir adalah material garam yang diproses. Ini merupakan cetakan garam yang berasal dari penguapan alamiah untuk menghasilkan kristal garam. Desainer struktur dan para ahli sedang berupaya mengeksplorasi ketiga jenis garam ini sebagai material struktur bangunan untuk hasil terbaik.

Bagaimana garam sebagai campuran material konstruksi di masa lalu

Sejarah mencatat, garam mentah sudah menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur bangunan, terutama yang dekat dengan kawasan padang garam. Tercatat kota-kota di masa lalu, seperti Getta dekat Damaskus, dan Taghaza di Mali, Afrika, memperlihatkan bagunan di sana tersusun dari bongkahan garam. Material garam dipakai lantaran lokasi itu dekat dengan lading garam, dan sangat jarang tersedia material bangunan lain.

Contoh lain di Salar de Uyuni di Bolivia. Kawasan ini adalah padang garam terbesar di bumi yang ada di atas permukaan laut. Bongkahan besar material garam mentah yang berkandungan 95% NaCl, dipotong dari permukaan padang, dan dipakai sebagai bata bangunan. Saat ini, material garam mentah digunakan dalam bentuk bongkah “pink Himalayan salt block”. Biasanya dipakai untuk kebutuhan ruang interior, seperti di perumahan, spa, dan restoran.

Seperti disebutkan, sejarah telah mencatat banyak penggunaan garam pada arsitektur masa lalu. Selain Romawi kuno, salah satu komposit garam pertama dinamakan Karshee dan Karshif dikembangkan di kawasan yang disebut Oasis Siwa di Mesir. Menggunakan bata garam yang diambil dari danau garam yang tercampur dengan tanah dan lumpur berkandungan garam. Teknik material ini pun bisa dijumpai saat ini.

Di masa sekarang, gedung yang memanfaatkan material garam tetap ada. Sebut saja Atelier Luma’s Salt Panels di Perancis. Firma desain bangunan, Atelier Luma membangun struktur gedung garam yang terdiri dari 4000 panel yang melingkupi dinding gedung seluas 560 meter persegi di Menara Frank Gehry, di bagian yang disebut “Dinding Garam” atau “Wall Salt”.  

Tak melulu gedung, Uni Emirat Arab (UEA) pernah memamerkan semen alternatif yang lebih ramah lingkungan. Semen ini buah inspirasi dari sabkhas UEA yang merupakan dataran garam. Material terbuat dari garam dan mineral yang diekstrasi dari limbah air garam. Adapun limbah garam ini berasal dari industri penyulingan air laut di sana. Dengan memakai sumberdaya lokal dan mendaur ulang limbah industri, material berbasis garam ini bisa menjadi semen alternatif, untuk menggantikan semen konvensional yang tak ramah lingkungan di pembangunan konstruksi.  

Di tengah pengembangan fungsinya pada sektor infrastruktur, material dari garam sangat bisa menjadi alternatif untuk mengurangi bahan konvensional pada bangunan dari sumber yang justru mengancam keberlanjutan bumi. Hal ini karena garam memiliki banyak sumber, salah satunya dari hasil produk samping sebuah proses industri, yaitu penyulingan air laut dan tambang kalium karbonat. Alhasil, garam menjadi limbah yang bisa diubah jadi material lain. Pada akhirnya, industri konstruksi berpotensi mencapai “zero waste”plus adanya pengurangan residu dari proses industri primernya.

banner