banner
Ilustrasi Budidaya Ikan Salmon. Foto: Shutterstock
Berita

Cargill Berinovasi dalam Budidaya Salmon yang Berkelanjutan

942 views

MajalahCSR.id – Cargill, perusahaan multibisnis asal Amerika, mengembangkan program keberlanjutan baru yang disebut SeaFurther. Program ini memperluas komitmen perusahaan (yang salah satu lini bisnisnya adalah layanan pangan) untuk mengurangi jejak karbon di lautan. Program difokuskan pada budidaya perairan perusahaan, dan bisnis budidaya pakan perairan, di mana targetnya adalah pengurangan emisi Scope 3 yaitu reduksi emisi karbon hingga 30% pada 2030, dengan menggunakan basis 2017.  

Popularitas diet yang ramah lingkungan dan keberlanjutan tengah menanjak di masyarakat. Sebagai catatan, pasar seafood diproyeksi mencapai nilai USD 200 miliar (Rp 2,9 ribu triliun) pada 2027. Bahkan pada tahun 2019, pasar ini nyaris menyentuh angka USD 160 miliar, di mana pertumbuhan pasar pertahunnya diperkirakan sebesar 2,5 persen. Sebagai salah satu produsen budidaya perairan, Cargill adalah pemain kunci dalam pengurangan emisi. Cargill akan memulai programnya dalam peternakan salmon yang hampir semuanya berlokasi di Norwegia dan Skotlandia.  

“(Budidaya) Salmon sangat efisien, dari perspektif karbon, juga protein saat memulainya,” cetus Heather Tansey, kepala divisi keberlanjutan nutrisi hewan dan kesehatan di Cargill. “Oleh karena itu, peternakan (perairan) adalah salah satu aspek terbesar dalam jejak karbon.”

Mengutip Greenbiz, pada 2018, budidaya salmon ini mencetak produksi 2,68 metrik ton dari total produksi salmon global atau sekitar 74%.  Tansey melanjutkan, pakan salmon berkontribusi emisi sangat besar mencapai 90% terhadap total operasional budidaya. Sebagai bahan perbandingan, riset sebelumnya menyebut,dalam peternakan sapi, pakan hanya menyumbang 20% terhadap total emisi karbon.  

Dalam internal pelaksanaan budidaya, Cargill memfokuskan diri untuk mengubah kandungan pakan yang lebih kecil dampak emisi karbonnya. Divisi budidaya perairan mencoba menambah prosentase dari sisa potongan ikan atau sisa konsumsi manusia untuk kembali dijadikan bahan pakan hingga 40%.  

“Dalam permasalahan salmon, saya cukup terkejut ketika pakan salmon kini mulai diproduksi yang bahkan menggunakan kembali limbah ikan,” kata Tyler Isaac. Isaac adalah pakar senior dalam budidaya perairan di Monterey Bay Aquarium Seafood Watch Program, sebuah program noon profit unggulan dalam pangan keberlanjutan.

Sejak 2019, jejak Cargill dalam pangan keberlanjutan sudah terlihat. Di tahun tersebut, Cargill bekerja sama dengan InnovaFeed, perusahan startup yang memproduksi pakan ternak dan ikan dari tanaman dan protein serangga. Cargill bahkan membiayai sebuah pilot program dengan InnovaFeed untuk membawa pakan ikan dari protein serangga tersebut ke level iklan komersial.

Namun, pakan ternak dan ikan dari bahan tanaman harus disikapi secara hati-hati karena bersinggungan dengan isu keberlanjutan lain.

“Seringkali, jejak karbon dalam bahan pakan (ikan) berbasis tanaman berkorelasi dengan hal-hal yang merujuk tindakan deforestasi,” sebut Isaac. “Jika anda menebang hutan Amazon untuk bertanam kedelai, anda kehilangan potensi penyerapan emisi karbon oleh hutan hujan tersebut.”

Mengenai hal ini, Tansey menyebut, tim keberlanjutan dari Cargill berencana untuk lebih berhati-hati pada masalah itu, dan departemen bahan mentah dari perusahaannya mengevaluasi penyuplai kedelai dan gandum untuk menerapkan pertanian praktis dan mendorong pergantian bahan pada para petani dengan model yang lebih lestari.     

banner