banner
Aksi demonstrasi mendorong penanganan perubahan iklim. Foto : Reuters
Ragam

Ilmuwan Iklim di Dunia Desak Tindakan Nyata Pemerintah

506 views

MajalahCSR.id – Sekitar pertengahan April ini, para saintis di seluruh dunia menggelar protes demi menekan pemerintah negaranya masing-masing unutk mempercepat penanggulangan perubahan iklim. Para pakar tersebut menegaskan para pemimpin negara harus benar-benar secara drastis mengurangi emisi sebelum segalanya terlambat. Protes iklim ini buntut dari laporan Perserikatan Bangsa-bangsa yang menyebutkan, dunia hanya menyisakan waktu 3 tahun untuk bertindak menanggulangi perubahan iklim. Laporan itu juga melanjutkan, kegagalan dalam menangani emisi secara serius dan menyeluruh mengakibatkan bencana iklim yang berbahaya.

Secara gamblang laporan PBB itu menuliskan, jika dunia tak serius menangani emisi hingga 2025, maka suhu bumi akan menghangat hingga 3,2 derajat Celsius di 2100. Kondisi itu akan membahayakan bumi mulai adri timbulnya badai besar, kekeringan ekstrim karena panas ekstrim, banjir besar, hancurnya mata rantai pangan, dan masih banyak lagi. Di seluruh kota-kota besar dunia, para ilmuwan menggalang protes menuntut pemerintah negara mereka untuk mengambil tindakan.

Melansir dari The Hill, di London,Nggris, 25 ilmuwan sengaja melumuri tangan mereka dengan perekat sambil menempelkan kertas laporan PBB ke jendela gedung Departemen Strategi Bisnis, Energi dan Industri. Mereka menekankan departemen tersebut harus secepatnya tanggap pada laporan alih-alih mengabaikannya seperti kebanyakan departemen pemerintah di negara itu.

Sementara itu protes serupa terjadi di Los Angeles, AS. Polisi mengamankan setidaknya 4 orang ilmuwan (termasuk ilmuwan badan antariksa NASA, Peter Kalmus) pada Rabu (13/4/2022) lalu karena turut dalam aksi. Penangkapan dilakukan di depan pintu masuk Chase Bank, menyusul aksi mereka sebelumnya yang memprotes kebijakan bank untuk tetap memberi pinjaman modal pada perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil.

Berlanjut ke Madrid, Spanyol, lebih dari 50 orang ditangkap aparat setempat setelah aksi lempar darah tiruan pada tangga gedung kongres Parlemen Spanyol. Kasus-kasus penangkapan tadi hanya sedikit dari lebih dari 1.000 ilmuwan yang menggelar protes di seluruh dunia.

Saat berbicara pada media Business Insider, Kalmus mengatakan, apa yang disampaikan oleh laporan PBB tersebut sudah diingatkan jauh-jauh hari bahkan bertahun-tahun lalu oleh para ilmuwan. Kalmus menyebutkan bahwa komunitas saintis sudah mendesak negara terutama negara adidaya menghentikan emisi dan proses perubahan iklim.

“Kami sudah mengingatkan dari beberapa dekade lalu bahwa kita akan menghadapi bencana hebat, namun kami tetap saja dianggap remeh,” keluh Kalmus. “Seluruh ilmuwan di dunia sama-sama menghadapi kebebalan dan penolakkan, dan ini harus dihentikan. Kami tak sedang bercanda. Ini bukan omong kosong, dan kami tak melebih-lebihkan (ancaman perubahan iklim ini).”  

Aksi protes ini merupakan bagian dari pekan aksi protes warga (week of civil disobedience), yang diinisiasi oleh organisasi Scientist Rebellion, cabang dari kelompok aktivis perubahan iklim, Extinction Rebellion.

banner