banner
sumber : masukuniversitas.com
Berita

Reformasi Pendidikan dan Terobosan untuk Lulusan SMA Berbakat

2030 views

Kondisi lingkungan sekolah yang ada sekarang ini kebanyakan kurang ramah lingkungan dan kurang nyaman untuk mengembangkan daya imajinasi siswa. Mestinya pendidikan dasar dan menengah memiliki lingkungan belajar yang nyaman dan ramah lingkungan. Saatnya menghilangkan conformity atau penyeragaman pendidikan dasar dan menengah lalu memberikan nuansa yang lebih bersahabat dengan alam, mengedepankan aspek kebudayaan lokal serta bersendikan daya imajinasi.

Para guru diarahkan untuk merangsang siswa dengan cara membuat proyek ilmiah sederhana setelah pelajaran teori. Metode eksperimental menuntut para guru dan pengelola sekolah untuk lebih kreatif dan inovatif guna memperoleh modul-modul proyek ilmiah sederhana beserta informasi pendukungnya.

 

Reformasi pendidikan memerlukan terobosan terkait dengan kondisi lulusan SMA berbakat yang tidak terserap oleh perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) karena kapasitas atau rasio kursi dan jumlah dosen untuk prodi tertentu masih kurang.

 

Melihat angka Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2017 kita bisa melihat masih banyak siswa berbakat yang tentunya tidak bisa masuk prodi yang diinginkan.

Jumlah peserta yang dinyatakan lulus seleksi pada 78 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se Indonesia sebanyak 101.906 siswa. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh Panitia Pusat dari  jumlah pendaftar sebanyak 517.166 siswa.

Perlu terobosan yang menjadi pelengkap atau penunjang reformasi pendidikan. Yakni memberikan jalan yang seluas-luasnya kepada lulusan SMA berbakat untuk belajar di perguruan tinggi terkemuka di luar negeri. Berbagai skema pengiriman siswa berbakat perlu dibuat, dari skema beasiswa dari negara lewat LPDP, beasiswa pemerintah daerah maupun pengiriman secara mandiri oleh para orang tua yang memiliki kemampuan dana.

Perlu napak tilas program pengiriman siswa lulusan SMA terbaik dari seluruh Indonesia, untuk belajar di negara maju, yakni di Eropa, Amerika, Jepang dan Australia. Program diatas adalah sucsess story Program Beasiswa Habibie di Bawah Kementrian Riset dan Teknologi Periode 1992-1996, tentunya perlu diadopsi lagi sesuai dengan kondisi terkini.

Sungguh tidak adil jika tunas-tunas muda berbakat tersebut kehilangan kesempatan untuk menjadi SDM bangsa yang hebat. Apalagi Indonesia sebenarnya baru sedikit mengirimkan pelajarnya ke luar negeri.

Sungguh ironis, dengan jumlah penduduk pada 2016 sebesar 257,9  jiwa,  hanya sekitar 60 ribu yang belajar ke luar negeri. Suatu rasio yang timpang jika dibanding dengan negara lain.

Pengiriman siswa/mahasiswa ke luar negeri, adalah salah satu wujud kepedulian negara dan masyarakat dalam peningkatan kualitas SDM. Bahkan negara-negara besar seperti Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok; membuka kesempatan dan memberikan fasilitas pada mahasiswa atau pelajar yang berminat studi ke luar negeri, bahkan ke negara berkembang. Tujuannya adalah untuk mempelajari budaya, memelihara hubungan bilateral, atau untuk  kerjasama pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai gambaran, menurut survey dari Institute of International Education (IIE), rata-rata pertumbuhan mahasiswa yang datang untuk belajar di Amerika Serikat mencapai delapan persen pertahun. Sebagian besar,  65 persen dibiayai secara pribadi, 19 persen dibiayai dari beasiswa yang ditawarkan oleh universitas di Amerika, 8 persen dari pemerintah asal, dan sisanya sebesar 8 persen berasal dari sumber-sumber lain. Prosentase diatas didominasi oleh pelajar dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan, yang jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen dari total mahasiswa asing yang belajar di negara tersebut.

Jumlah mahasiswa asal Tiongkok mencapai sepertiga dari seluruh mahasiswa internasional di AS dan mengalami peningkatan lima kali lipat sejak 2000. Mahasiswa Tiongkok makin banyak yang menempuh pendidikan di luar negeri karena dipersiapkan secara matang oleh pemerintahnya, antara lain dengan memperbanyak SMA internasional dimana murid-muridnya memiliki target untuk belajar di luar negeri.

 

Bimo Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA
– Penggagas Program Beasiswa Gerakan Indonesia 2030
– Ketua Umum IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie)
– Pendiri Euro Management Indonesia

banner