banner
Kegiatan program sosial kemasyarakatan di UPTD SDN 2 Riam Adungan. Foto : Hendi Hesa Mahendra
Ruang

Sejumput Kisah Pengabdian Masyarakat

580 views

“Sekali berarti, sudah itu mati.”

Chairil Anwar

Jakarta – MajalahCSR.id – Tahun 2018, saya adalah mahasiswa perantauan dari desa ke kota, yang ikut aktif berorganisasi di kampus. Satu hal yang saya sadari, sebagian dari kita sibuk berorganisasi, berkegiatan, membuat beragam seminar, pelatihan, pengabdian, atau acara sejenis. Beberapa di antara kita mungkin selalu terlena pada keasyikan membahas pepesan kosong persoalan bangsa di setiap dan sepanjang malam. Kita pun sibuk menyuarakan suara-suara rakyat kecil. Kita lalu tergopoh-gopoh memajukan kota tempat kita kuliah atau tempat lain di mana pun itu yang mana bukan tempat kita berasal.

Pada 2018 akhir, belum ada gambaran yang jelas program pengabdian masyarakat seperti apa yang saya ingin lakukan. Namun, yang pasti saat itu saya hanya ingin merealisasikannya. Saya lantas menghubungi teman-teman alumni SMA. Tak lupa saya pun menemui organisasi pemuda di daerah asal. Kami pun akhirnya bertemu, berdiskusi dalam rapat dan membentuk kepanitiaan. Dari situlah tercetus sebuah program yang kami namakan “Pemuda Kintap Mengabdi”.

Program ini dilakukan di Desa Riam Adungan, lebih spesifik di UPTD SDN 2 Riam Adungan. Kenapa memilih Desa Riam Adungan? Karena desa ini saya anggap sebagai desa paling pelosok namun paling dekat dari tempat saya tinggal serta paling memungkinkan untuk dilakukan kegiatan. Perjalanan ke lokasi memakan waktu sekitar 1 jam dengan melewati area tambang dan perkebunan sawit. Sehingga tak heran jika musim hujan akses jalanan ini berlumpur, atau berdebu jika musim kemarau. Pertanyaan selanjutnya, mengapa dilaksanakan di lingkungan pendidikan sekolah dasar? Saat itu saya berpikir anak-anak SD lebih mudah tertangani daripada siswa SMP atau SMA.

Berlanjut ke awal 2019, selama 3 hari 2 malam, saya bersama panitia yang lain mengabdi dengan menggelar sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari mengajar di ruang kelas, melakukan edukasi terkait lingkungan, kesehatan, tata cara beribadah seperti wudhu, hingga melaksanakan sholat Jumat bersama. Tak hanya belajar, para siswa pun kami ajak berkegiatan lain yang menyenangkan, seperti bermain bersama, menonton film, menanam pohon, mengecat perpustakaan.

Selain itu kami pun memberikan bantuan tong sampah, hingga sabun cuci tangan. Masyarakat setempat pun kami libatkan melalui kegiatan diskusi yang ditutup dengan aksi jalan-jalan ke sungai, gua dan gunung. Program ini sebenarnya sederhana. Yang cukup sulit adalah mengajak mereka terlibat dalam rapat untuk pembahasan kegiatan dan cara bagaimana program ini tetap berjalan walaupun banyak hal yang harus saya lakukan sendiri.

Setelah kegiatan selesai, besoknya saya harus bergegas ke kota untuk kuliah yang menempuh 3 jam perjalanan. Dengan kondisi tubuh kurang fit saya tetap harus melakukan kewajiban dengan berkuliah, hingga terpapar demam berdarah dan beristirahat selama seminggu di rumah sakit.

Sebenarnya di awal saya sempat was-was, terutama saat acara jalan-jalan ke gunung. Bukan apa-apa, medan yang berat dan banyak anak-anak yang ikut menjadi alasan saya untuk khawatir pada rombongan kami saat itu. Lucunya, untuk menetralkan rasa was-was itu, saya malah berharap jika terjadi sesuatu, semisal ada yang sakit, biarlah saya yang menanggung, bukan teman-teman lain. Terbukti, harapan itu benar-benar terjadi, meskipun saya juga bersyukur karena anggota rombongan kami baik-baik saja. Menurut para orang tua Jawa inilah yang diistilahkan wisa atau racun dalam Bahasa Indonesia.   

Pengalaman yang bagi sebagian orang boleh jadi merasa kapok, malah menyuntikkan semangat dan keasyikan baru bagi saya. Saya kembali berkolaborasi dengan teman-teman dan kolega lainnya di lain waktu demi melakukan hal-hal yang saya pikir sederhana. Tetapi, saya sangat yakin melakukan hal-hal yang berarti tak melulu menyangkut lingkup yang besar dan rumit. Hal yang simpel namun sering dilakukan akan  jauh lebih berdampak.  

Kita yang terlahir berkecukupan selayaknya mempunyai rasa kepedulian dan tanggung jawab untuk membantu orang-orang sekitar. Kenyatannya, masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah, dan masih banyak pula anak-anak yang sekolah yang juga bekerja. Bagi mereka tak merasa muluk untuk ke mana mereka menggapai impian dengan melanjutkan pendidikan.

Masih banyak dari mereka yang berada di dalam kungkungan kondisi, “Apakah masih bisa makan di hari esok?”. Di sini peran kita – yang bila dilakukan – bisa berdampak langsung pada situasi sekitar daripada berdiskusi kosong soal kondisi sosial, ekonomi, bahkan negara. Saya lebih memilih untuk bermanfaat langsung bagi yang lain, yang bahkan siapapun sebenarnya pasti bisa melakukannya, termasuk anda.  

 

Simpang Empat Sungai Baru, Kalimantan Selatan

24 Juni 2022

Hendi Hesa Mahendra

CDEA Assistant

PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-asam

banner